Jakarta, 16 Juli 2019 – Setelah menjuarai Japan Open Memory Championship 2019 pekan lalu, Tim Indonesia kembali mengukir prestasi pada kejuaraan daya ingat Philippine Open Memory Championship 2019 yang berlangsung tanggal 13-14 Juli lalu. Sejumlah 12 pelajar Indonesia bertanding dengan puluhan atlet memori lainnya yang berasal dari Filipina, China, India, serta Uzbekistan, dan berhasil merebut total 21 medali.

Tim Pelajar Indonesia meraih 21 medali di Phillipine Open Memory Championship 2019.

Kompetisi yang diselenggarakan di Dreamworld Hotel, Quezon City, ini mempertandingkan 10 jenis perlombaan yang menguji kemampuan otak, yakni Names and Faces (5 menit mengingat wajah dan nama); Binary Numbers (5 menit mengingat urutan angka biner); Random Images (5 menit mengingat urutan gambar); Random Numbers (5 dan 15 menit mengingat urutan angka); Fictional Dates (5 menit mengingat tahun dan kejadian); Random Words (5 menit mengingat urutan kata); Spoken Numbers (mengingat urutan angka yang diperdengarkan satu detik per angka); dan Random Cards (5 dan 10 menit mengingat urutan kartu remi).

Tim Indonesia yang berada di bawah pembinaan IMSC (Indonesia Memory Sports Council) pimpinan Grandmaster of Memory, Yudi Lesmana, kali ini berhasil membawa pulang 6 emas, 7 perak, dan 8 perunggu. Perolehan ini menempatkan Tim Merah Putih meraih predikat sebagai 2nd Position Country Champion di bawah negara tuan rumah Filipina. Meskipun demikian, Indonesia mampu mengungguli negara China, India, dan Uzbekistan.

Highlight Team Indonesia pada 6th Philippine Open Memory Championship 2019

Dalam kompetisi daya ingat, peserta dikelompokkan ke dalam tiga kategori usia yakni Kids/Anak-anak (≤ 12 tahun), Junior/Remaja (13-17 tahun), Adult/Dewasa (18-59 tahun), dan Senior (> 59 tahun). Masing-masing peserta memperebutkan posisi juara umum, juara per kategori, serta juara per nomor pertandingan. Selain itu, bagi para peserta yang baru mengikuti kompetisi daya ingat di Filipina, diberikan pula penghargaan Best New Player untuk masing-masing kategori.

Muhammad Daffa (tengah), pelajar dari Jakarta yang menjadi Juara Umum ke-2 di ketegori Kids

Pada kategori Kids, Muhammad Daffa Dhiyauddin berhasil meraih 2 perak di cabang Speed Numbers dan Names and Faces. Selain itu, pelajar dari SMP Labschool Cibubur, Jakarta, ini memperoleh 4 perunggu di Random Images, Random Words, 15 Minute Numbers, dan Speed Cards. Pencapaian ini berhasil menempatkan Daffa sebagai Juara Umum ke-2 di kategori Kids. Penghargaan Best New Player di kategori ini diraih oleh Fauzan Januar Aryawan (Top 5), Mila Andyni Adin (Top 6), dan Athaya Kemal Althaf (Top 8).

Adapun di kategori Junior, pelajar Indonesia meraih jumlah medali yang mengesankan yaitu 6 emas, 6 perak, dan 4 perunggu. Medali ini disumbangkan oleh Shafa Annisa (Yogyakarta) dengan 5 emas, 1 perak, dan 3 perunggu, serta Aisha Nadine (Tangerang Selatan) dengan 1 emas, 5 perak, dan 1 perunggu. Shah Brahma (Top 6) dan Alexa Aurelia (Top 7) meraih penghargaan Best New Player di kategori ini.

Shafa Annisa, siswi SMA Kesatuan Bangsa, Yogyakarta, juga berhasil meraih perolehan skor individual tertinggi ketiga pada kejuaraan ini, hanya terpaut sedikit saja dari Jamyla D. Lambunao dan Erwin G. Balines, Grandmaster of Memory dari Filipina. Shafa sendiri telah berhasil meraih predikat sebagai Grandmaster of Memory sejak World Memory Championship 2017 yang diikutinya. Pencapaian rekor ingatan fantastis diraih oleh Shafa yang mampu mengingat 100 digit urutan angka acak yang diucapkan dalam 100 detik (nilai sempurna), serta memecahkan rekor pribadinya dengan mengingat 52 kartu remi dalam 40.342 detik, serta 359 gambar acak dalam 5 menit.

Aisha Nadine (kiri) dan Shafa Annisa (tengah), yang menyumbangkan banyak medali di kategori Junior.

Tak hanya itu, Aisha Nadine pelajar dari SMAN 2 Tangerang Selatan, mengungguli banyak atlet daya ingat dari negara lainnya di cabang Random Words. Dalam 5 menit, pelajar kelas 10 yang akrab disapa Nadine ini sukses mengingat 92 kata, mengalahkan Erwin G. Balines yang harus puas dengan perolehan 85 kata. Sama seperti Shafa, Nadine pun telah menyandang gelar Grandmaster of Memory pada kejuaraan daya ingat tingkat dunia yang diadakan di Ancol, Jakarta, tahun 2017 silam.

Untuk ke sekian kalinya, walau dengan dukungan terbatas, hasil kejuaraan ini membuktikan bahwa kemampuan daya ingat anak bangsa tidak dapat dipandang sebelah mata oleh dunia. Sejak berdiri pada tahun 2014, IMSC secara rutin melatih dan mengirimkan atlet-atlet daya ingat untuk bertanding pada Olimpiade Memory di berbagai negara. Hingga hari ini, Tim Olimpiade Memory Indonesia telah mengantongi ratusan medali emas, perak, perunggu, 2 Rekor Dunia, serta 5 Rekor MURI.

Baca juga prestasi tim lainnya : https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/ZkerQYPK-indonesia-ungguli-tiongkok-dan-jepang-di-kompetisi-daya-ingat

Categories: Event

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *